MODERASI BERAGAMA (ISLAM)
Ditulis Oleh : Isrofiatun Ika Saputri
Semua agama sepakat bahwa berdamai , kasih sayang, empati, dan saling menghargai adalah sikap yang harus nampak dan terasa di tengah perbedaan keyakinan yang bisa dikata terlalu mencolok. Hadirnya konflik kekerasan di beberapa penjuru dunia tentu membuat masyarakat beragama menjadi geram, sedih dan dilanda rasa dilematis yang teramat mendalam.
Semua bertanya, bagaimana mungkin kedamaian yang seringkali dijadikan cita luhur kemanusiaan hilang begitu saja. Fakta paling menyakitkan adalah, agama dituding menjadi penyebab utama. Banyak kelompok agama yang bertindak mengatasnamakan agama untuk melakukan pembenaran atas tindakan kekerasan. Padahal dibalik itu semua, ada faktor lain yang menyebabkan timbulnya konflik kekerasan. Mulai dari kepentingan kelompok, kekuasaan, dan ekonomi yang diperebutlan karena nilai dasar hidup bermasyarakat tidak dijalankan, yaitu keadilan.
Beberapa tahun terakhir gagasan moderasi Islam cukup menarik perhatian berbagai kalangan. Terlebih lagi baru-baru ini muncul sebuah ide yang dianggap brilian, yang diklaim akan menyatukan keberagaman dalam satu payung bernama toleransi, yakni “Terowongan Toleransi”. Melalui gagasan terowongan toleransi diharapkan mampu menyatukan perbedaan antara Islam dan Kristen.
Pembangunan terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, Jakarta Pusat telah mendapat persetujuan Presiden dan termasuk dalam proyek renovasi Masjid Istiqlal yang ditargetkan rampung pada April 2020.Terowongan itu diharapkan menjadi sarana untuk silaturahmi.
Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama (NU), mengkritik pembangunan terowongan tersebut. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyatakan, masyarakat membutuhkan silaturahmi dalam bentuk infrastruktur sosial, bukan dalam bentuk infrastruktur fisik berupa terowongan.
Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Kedeputian Komunikasi Politik Donny Gahral mengatakan, rencana pembangunan terowongan itu sebenarnya telah disepakati kedua pengurus rumah ibadah. Hal tersebut didasari oleh kebutuhan lalu-lalang kedua umat beragama, baik dari Katedral ke Istiqlal maupun sebaliknya.
“Tapi kemudian oleh Pak Jokowi itu dinarasikan sebagai terowongan silaturahmi. Jadi, Pak Jokowi memberikan makna terhadap sesuatu yang sebenarnya fungsional saja,” kata Donny.
Program Moderasi Islam
1. Mendirikan “Rumah Moderasi Beragama”
Sebelum proyek terowongan ini, Indonesia juga telah merencanakan membuat kampus moderasi Islam bernama Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Menurut Wakil Presiden Ma’ruf Amin, kampus ini diharapkan akan menjadi ikon pusat moderasi Islam dunia. Dengan acuan Indonesia sebagai negeri mayoritas Islam dan negara demokrasi. Di setiap PTKIN (salah satunya di kampus IAIN Samarinda) diharapkan memiliki rumah moderasi beragama.
2. Menyanyikan lagu Indonesia Raya di Majelis Taklim
Majelis Taklim adalah tempat memupuk pemahaman Islam masyarakat. Kadang-kadang diselingi dengan sholawatan atau qosidahan. Karena Islamophobia dan pengaruh moderasi beragama, akhir-akhir ini ada majelis taklim justru menyanyikan lagi Indonesia Raya di pengajian. Lagu yang biasa dinyanyikan saat upacara bendera akhirnya bermigrasi ke majelis taklim.
3. Sosialisasi ke sekolah-sekolah
Mendatangi sekolah-sekolah, bahkan sekolah-sekolah diundang ke acara yang membahas tentang toleransi dan moderasi dalam beragama. Membuat muatan kurikulum komprehensif menyangkut keberagaman dalam konteks keagamaan (seperti: penguatan komitmen beragama, penguatan toleransi, dan anti radikalisme).
Jika ada pertanyaan, saran, kritik maupun masukan dapat dikirim ke email kita kkn176.faighting@gmail.com ya temen-temen, pantengin blog kita agar tidak ketinggalan info-info menarik lainnya
Komentar
Posting Komentar